Silampukau : Terjemahan dari Obrolan Warung Kopi dan Ceracau Kekota-kotaan

Enam tahun sudah tampaknya Silampukau tidak berani unjuk gigi dengan karya terbaru mereka, maSilampukau-Dosa-Kota-Kenangan1sa vakum mereka terhitung sejak 2009 melalui peruntungan melalui E.P sederhana dan penuh kemandirian mereka bertajuk “Sementara Ini”. Hingga di pertengahan 2015 ini, mereka mencoba keluar dari sarang mereka dengan menciptakan jagoan Long P
laylist
mereka berjudul Dosa, Kota, dan Kenangan.

Masa penantian selama 6 tahun tersebut adalah suatu proses yang penuh dengan refleksi menurut kompilasi beberapa cerita sederhana yang senang mengobrol, suka mengigau, dan suka piknik. Di albumnya ini Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening sangat cerdas dalam meracik keselurahan barisan lagu mereka. Lirik demi lirik mereka ramu secara mendalam hingga representasi kerasnya hidup di Kota Surabaya mampu digambarkan dengan renyah dan santun di album ini.

Dibuka dengan lagu Balada Harian yang bercerita gagal paham seorang masyarakat yang menjalani kemonotonan hari-harinya dalam progres kota yang melesat, tersisihkan dan kehilangan makna. Selanjutnya lagu Sang Pelanggan adalah terjemahan gamblang ex-lokalisasi yang terkenal seantero Surabaya, lagu yang berhasil membenamkan dengan perlahan permasalahan sosial yang kompleks menjadi suatu dialektika yang penuh kenikmatan dan kejijikan hanya dalam satu malam saja. Setelahnya ada lagu cinta bertemakan Paris dan Surabaya, Puan Kelana. Begitu fasih Kharis mengejawantahkan kemiripan kondisi sosial, karifan lokal, hingga kondisi geografis yang dimiliki  keduanya sehingga tidak ada salahnya menasbihkan bahwa Paris “tidak kalah” dengan Ibu kota Jawa Timur ini.

Berbicara olahraga rakyat yang paling nikmat dan sehat adalah sepak bola, begitu juga Eki  yang mampu menuliskan pengalaman kolektif para penduduk urban di kawasan marginal akan olahraga satu ini pada lagu Bola Raya. Sejujurnya lagu ini adalah lagu perlawanan terhadap kekuasaan pengembang-pengembang “jahat” pada kota besar hingga permasalahan sengketa-sengketa tanah kosong yang terlalu rumit untuk dipikirkan, tetapi tidak serumit bermain bola di jalan raya dengan “beralaskan aspal, bergawang sendal”.

Lagi-lagi wajah kota Surabaya tergambar indah di lagu Biang Lala, kali ini giliran Taman Remaja Surabaya yang mendapat giliran untuk menjadi cerita singkat oleh Silampukau, lirik  jenaka bertemakan taman hiburan yang murah meriah dan digandrungi semua masyarakat Surabaya  sukses mereka bungkus dengan irama balad yang tenang dan menyejukkan. Selanjutnya Lagu Rantau adalah lagu khas obrolan warung kopi dengan cita rasa rakyat yang dipenuhi kesederhanaan perjuangan kelas pekerja di tanah rantau Surabaya. Kesan lirik kerasnya hidup dan peliknya problematika kehidupan kota berhasil mereka netralkan dengan alunan musik folk yang begitu mengalir lepas, selepas ceracau obrolan di warung kopi.

Lagu pamungkas yang mereka nobatkan di album ini  adalah Doa 1,  kali ini sosok yang diceritakan oleh Silampukau adalah sosok musisi indie yang dipenuhi dengan pekerjaan sambilan guna memenuhi kebutuhan hajat hidup sendiri. Suatu pengaduan dan permohonan terhadap Gusti YME dengan segala kenelangsaan hidup dan keluh kesah, hingga doa agar orang tua bahagia dengan memberangkatkannya ke tanah suci. Amiin.

Tidak ada lagi kata penutup selain merekomendasikan teman-teman mencoba mendengarkan 10 lagu di Album Dosa, Kota, dan Kenangan oleh Silampukau ini. Semoga berkenan, salam.

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
Gallery | This entry was posted in [review] and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s