Mudik: Dari Budaya Pop hingga Cuti Bersama

Tidak terasa memang, tiba-tiba sudah di penghujung bulan Ramadhan saja. Baiklah tidak usah berpanjang lebar, bagi saya meninggalkan bulan pengasah setengah kesabaran ini merupakan suatu kesedihan tersendiri, ayolah otak kadal berhenti bekerja, agar tulisan ini terus mengalir. Maaf meracau.

Ah, sebentar lagi lebaran, dalam situs belanja online terkemuka pun sudah dipasang hitung mundurnya dan satu hal yang akan banyak orang lakukan adalah tradisi mudik. Dalam beberapa artikel, asal muasal kata “mudik” berasal dari kata “udik” yang berarti kampung dan menjadi budaya pop lepas artis Tukul dan host cantiknya beraksi di pertelevisian. Jadi bisa dibilang mudik adalah suatu proses kembali ke kampung, menjadikan kacang tidak lupa akan kulitnya.

Jangan bilanglah kalau ini hanya pamer masyarakat perkotaan ke desa tercinta, suudzon besar ini. Ambil sisi positifnya saja, desa nanti bisa terjadi pemerataan ekonomi sekilat karena uangnya masyarakat perkotaan dibelanjakan di sana selama mereka menetap di kampung kelahirannya. Juga senangnya silaturahim dengan sanak keluarga mereka dan berbagi pengalaman kerasnya hidup di kota dengan segala macam variabelnya menjadikan momen tahunan ini tidak ingin dilewatkan oleh siapapun.

Tapi tidak semua keadaan berjalan mulus, proses kembali ke kampung tersebut ada saja halangan yang menimpa. Saya sangat menyayangkan semangat para pemudik yang menyala tetapi merencanakan perjalanannya secara asal-asalan hingga bertaruh nyawa mereka. Sebenarnya tidak ada standar khusus bahwa mudik itu harus ketika lebaran, tetapi karena masyarakat sudah dihantui suatu nilai historisitas yang mendarah daging maka banyak yang beranggapan mudik itu ya harus ketika lebaran. Dibalik semangat mudiknya, jangan lupa rencanakan mudik yang aman. Salut saya kepada PT. KAI yang menorehkan zero accident pada operasi lebaran tahun lalu dan kebetulan saya memakai jasa perusahaan tersebut tahun lalu. Semoga para perusahaan moda massa yang terlibat selama operasi mudik tahun ini dapat mencontoh hal tersebut dan PT. KAI tetap konsisten dengan zero accident nya.

Terakhir saya ucapkan selamat hari-hari cuti bersama. Semoga nenek saya cepat mengerti bahwa bank selama seminggu ini tidak dapat melakukan transaksi ataupan masalah pensiunan. Mohon maklum.

Saya tutup tulisan ini dengan tulisan dari Baruch Spinoza.

If circumstances are seen as unfortunate it is only because of our inadequate conception of reality.

 

 

 

 

 

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
This entry was posted in PROSES! and tagged . Bookmark the permalink.

2 Responses to Mudik: Dari Budaya Pop hingga Cuti Bersama

  1. duha says:

    udah lama san nggak ngepost. hehe
    intip juga blog gw san…hehe

    • jurnalazi92 says:

      Hola duha..
      Hha, terlalu banyak zat adiktif di dunia perkuliahan, semoga ini tetap istiqamah dalam tulis menulis.
      Ah siaf nnti saya berkunjung ke blognya. Tunggu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s