[review]Mumford and Sons-Sigh No More

Adakalanya seorang penceramah kehidupan datang kepada kita dalam keadaan kita tidak menyadarinya. Nalurilah yang nampaknya mengarahkan semua itu kepada suatu “isi” dari suatu “kekosongan”. Inilah yang saya maksudkan, salah satu penceramah kehidupan dalam format musikalnya, Mumford and Sons.

Dalam jurnal ini saya sengaja mengulas LP mereka yang pertama, Sigh No More(2009). Hal yang saya ingin tekankan kepada teman-teman sekalian ketika mendengar track pertama hingga track terakhirnya adalah lebih baik tidak terlalu berkespektasi terhadap “armed strummer” dengan tonal khas kota berdirinya band ini, London karena mereka lebih terlihat cocok dalam memegang alat-alat akustik maupun tradisional yang terlihat seperti universal.

Sigh No More, sebuah mukadimah ceramah yang menarik terucap dari mulut sang vokalis, Marcus Mumford, “Serve God, love me, and mend.” Juga adakalanya ketika ia mengingatkan sesama manusia, “Sigh no more, no more.”, “Oh man is a giddy thing, oh man is a giddy thing.” Ada suatu hal yang dapat dijadikan punchline di dalam lagu ini adalah ketika ia mengejawantahkan suatu cinta universal ke dalam suatu barisan lirik yang dinyanyikan dengan suara sedikit paraunya,”Love, it will no betray you, dismay, or enslave. It will set you free.” ditambah suara banjo yang berlompatan layaknya air yang ditumpahkan ke dalam minyak panas.

Semesta mendukung nampaknya bisa menjadi tema dari track Winter Winds. Ketidakpatuhan suatu jiwa dan keinginan manusia dia gambarkan dalam musim dinginnya London, ” As the winter winds litter London with lonely hearts.” lalu disambung melalui suatu chorus yang diramaikan brass section, “And my head told my heart, ‘Let love grow.’ And my heart told my head,’This time no’ yes my head..” Dalam lirik lagu in secara gamblang dia menganolgikan dingin adalah suatu ketidaksingkronan yang terjadi pada fase manusia dan itu terjawab dengan analogi berikutnya, ” Remember spring swaps snow for leaves. You’ll be happy…when the city clears and sun ascends.”

Lalu ada lagu romantis dengan beberapa ungkapan yang menyiratkan suatu energi spiritual, White Blank Page. “And can you kneel before this king and say ‘I’m clean’, ‘I’m Clean’?” lalu, “but tell me now where was my fault, in loving you with my whole heart?”

Lagu yang terakhir saya akan ulas adalah Little Lion Man. Lagu yang menurut saya sedikit berbeda dari lagu yang lainnya. Diawali dengan picking gitar akustik yang mengatur suatu tempo lagu tersebut ditambah dengan ambience yang dihasilkan oleh gitar elektriknya. Tidak lupa Banjo yang selalu “disetel” di setiap lagunya.

Secara overall album ini bertutur akan harapan, bagaimana ia seringkali akan ditemukan lebih dari dua kali band ini berkata dalam liriknya perihal harapan tersebut, juga kisah cinta universal dan keinginan mencintai seorang dengan sepenuh hati. Bagi saya album ini memang akan mengisi suatu harapan saya untuk beberapa saat, tetapi bukan untuk selamanya. Lalu dalam ranah musikal, mereka  relatif mengeluarkan tonal yang  sama di setiap lagunya. Tetapi saya menghargai maksud dari album ini adalah karena banyaknya pelajaran berharga tentang kehidupan yang mereka suntik melalui lirik mereka melalui gaya ceramah yang mereka buat sendiri.

Salam azi92

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
Gallery | This entry was posted in [review]. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s