Jatinangor oh… Jatinangor (1)

Bisa jadi suatu kota yang dahulu tidak ingin kamu singgahi
suatu saat bisa menjadi melankolia ketika kamu berpisah dengannya.

Sore itu(01/08), tak biasanya saya begitu bersemangat untuk melakukan beberapa hal di dua tempat yang relatif agak berjauhan. Yang pertama di tempat saya mengajar seorang murid sekolah menengah berkelakuan layaknya borjuasi kelas menengah, tetapi tidak terlalu sulit menyerap pelajaran dan tempat kedua ini adalah di mana akan diadakan suatu jamuan rasa syukur oleh beberapa rekan-rekan saya untuk sekalian berbuka puasa.
Sudah lama sekali saya menunggu. Satu jam telah berlalu dari janji yang diberikan seorang murid kepada pengajarnya dan jadwal yang telah saya buat pun harus mengikuti kemauannya. Saya tidak bisa memaksakan untuk terus belajar sesuai jam belajar yang sudah ditetapkan karena murid yang bersangkutan akan melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda oleh kedatangan saya. Berakhirlah sudah untuk materi hari itu dengan pengaplikasian diferensial dan integral pada kinematika gerak.

Pukul 17.00 WIB, saya dengan bersegara menuju tempat selanjutnya. Sudah bisa dibayangkan, jam-jam seperti inilah bandung dapat berubah menjadi lautan kendaraan.

Stopan pertama Soekarno Hatta, saya sempatkan membeli sebotol minuman mineral untuk kemudian berjaga berbuka di perjalanan. Nampaknya lampu merah sudah berubah menjadi hijau, dan sangat disayangkan lampu tersebut tidak lagi berguna sebagai tanda pada waktu tersebut dikarenakan padatnya kendaraan dari arah utara dan barat, sehingga polantas segera merubah skema lalu lintas jalan tersebut. Sekarang barulah giliran arah selatan, seketika hamburan kendaraan menuju arah yang berbeda dan dominan menuju ke arah timur yaitu menuju ujung jalan tersebut yaitu Cibiru.

Di luar dugaan, saya yang biasanya hanya menghabiskan waktu 15 menit untuk sampai ke cibiru dan pada jam itu saya menghabiskan sekitar 2 kalinya. Entahlah, saya tidak ingin bersegera ketika itu. Bahkan 60-80 Km/Jam saja, saya tidak mau mencapainya. Seketika saya ingat beberapa bulan yang lalu saya masih sering melakukan balapan ringan dengan para pengendara sepeda wanita. Untuk yang satu ini memang rasanya tidak fair, tetapi jujur saja suatu pelecehan bagi saya untuk momen tertentu ketika sepeda motor saya disalip oleh pengendara sepeda motor wanita, abaikan.

Setengah perjalanan sudah saya lalui. Cibiru, suatu kecamatan di sebelah timur Kota Bandung juga suatu jalan yang paling ramai dilalui diantara Jalan Cihampelas, Dago, dan Buah Batu. Namun salah ketika kita membandingkan keramaian tersebut dengan jalan yang telah saya sebutkan di atas. Tidak ada nampaknya di jalan tersebut keramaian para pelancong luar kota yang sengaja berjalan kaki untuk berbelanja sekaligus menyantap kuliner. Ini adalah murni padatnya karena berbagai macam kendaraan dari mulai kendaraan pribadi, moda massa, hingga truk gandeng pengangkut barang-barang ekspor/impor. Jalan ini cocok bagi teman-teman yang ingin meningkatkan skill bermotornya dalam hal salip menyalip.

Perjalanan saya sudah sampai Jalan Cinunuk, suatu desa dari Kecamatan Cileunyi. Jalan tersebut masih saja ramai pada jam-jam ini. Terdengar adzan maghrib berkumandang, saya sengaja melanjutkan perjalanan untuk beberapa meter ke depan dikarenakan ada pembagian bungkusan takjil salah satu bank nasional di jalan tersebut. Dengan sigap saya mengambil takjil tersebut dengan posisi masih berkendara sepeda motor. Alhamdulillah, shaum kali ini saya batalkan, semoga shaum ini diterima di sisi-Nya. Amiin.

 

 

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
Gallery | This entry was posted in Jatinangor-Bandung Lewat Sayang, PROSES!. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s