Filosofi Telor dan Ayam

Selamat siang.

Sejak bulan empat, saya nampaknya tidak pernah menyambangi jurnal ini apalagi sekadar mencatat kejadian yang sudah terjadi di empat bulan mendatangnya. Sebuah notes checkered yang selalu saya bawa kemanapun saya pergi tampak tak lebih dari barang–wajib bawa– di tas saya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan notes, kejadian, dan pengalaman. Hanya saja selama empat bulan ke belakang ini visual kata yang selalu saya tekankan di setiap pengalaman sangat sulit terangkai.

Ini tidak seperti ketika saya masih mengenakan seragam putih-abu, menghabiskan satu buku dalam satu bulan terlihat masih belum cukup, hasrat untuk “nambah” selalu terjadi. Sehingga apa yang sebut dengan visual kata mudah saja terjadi. Menyerap satu persatu dengan memilah, menggunakan frasa yang tepat, menjadi idiom yang serasi, sehingga dapat menguatkan sebuah kata-kata menjadi kalimat yang layak baca.

Beberapa teman berkata langsung kepada saya tentang jurnal ini yang tidak pernah aktif semenjak beberapa bulan terakhir, entah untuk menanyakan kabar jurnal yang hampir “mati” ataupun kelanjutan ulasan-ulasan album terbaru, konser, dll. Saya pun tidak menyangka teman-teman kuliah saya pun berkata, ” Blog lu gak pernah aktif lagi ya?” Kalimat itulah mungkin yang saya dengar akhir-akhir ini mengenai jurnal yang saya sudah rintis sejak tahun 2010. Saya tidak menyangka bahwasannya animo dari beberapa orang yang rajin bertukar pikiran dengan jurnal ini begitu besar. Dan kalau boleh jujur, selama ini saya hanya aktif sebagai blog walker di beberapa jurnal teman-teman saya. Beribu maaf teman-teman. Semoga ke depannnya saya akan terus berkarya dan saling berbagi sesama.

Pagi ini terlintas kembali sebuah kalimat dalam benak kepala saya, “Jikalau saya dapat membaca pasti saya dapat menulis.”  Inilah yang saya jadikan semangat sampai saat ini untuk dapat terus berbagi pengalaman, pikiran, dan rangkaian sastra tulisan yang selalu mengisi jurnal ini. Saya yakin teman-teman sekalian memiliki kalimat cambuk serupa agar teman-teman selalu konsisten dalam berkarya.

Terakhir dari saya, jangan anggap tulisan ini hanya sebagai apologia semata. Anggaplah tulisan ini sebagai telor yang baru menetas dari seekor ayam yang sudah menghasilkan banyak telor selama hidupnya. Dan tugas kita semua adalah bagaimana kita melakukan sebuah usaha untuk menetaskan telor tersebut.

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
Gallery | This entry was posted in they whisper, we explode!. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s