Main Bola

I feel like i’ve been living here
A city with no children in it
A garden left for ruin by a millionaire inside the private prison.
Arcade Fire-City with no Children

“Sudah berkali-kali kamu pecahkan kaca-kaca di sekolah ini.” Bentak Ibu Romlah
“Tapi itu semua saya benar-benar tidak sengaja Bu.” Bela Muin
“Kalau memang itu tidak sengaja, kenapa kamu tidak melemahkan saja tendanganmu?” Tanya ibu
“Ta..ta…tapi Bu.” Muin mencoba membela di tengah suasana yang panas
“Tidak ada tapi-tapi, ini bukan lapangan bola, ini lapangan sekolah.” Ibu memberi tahu dengan menyambar. “Ibu tidak mau tahu, pokoknya untuk dua minggu ke depan tidak ada yang bermain bola di lapangan sekolah ini..titik” Jelas Ibu Romlah dengan suara yang tegas.

Tidak lama setelah itu, Muin dipersilahkan keluar untuk kembali mengikuti pelajaran karena waktu istirahat telah usai. Jam istirahat memang waktu yang tepat untuk Muin dan kawan-kawannya mengeluarkan hasrat terpendam guna bergaya bak bintang nasional maupun internasional dan juga penyaluran energi kinetis untuk suatu olahraga yang sagat digemari di kalangan murid laki-laki sekolah dasar, yaitu Sepak Bola.

Hari tadi adalah yang keenam kalinya Muin, seorang anak kelas 5 SD Sampai Petang  memecahkan kaca-kaca di sekolah itu. Bintang lapangan di kelasnya ini memang kerap kali tidak bisa bermain-main untuk urusan sepak bola ini, sampai-sampai kedua orang tuanya dibuat kaget dengan kemauannya untuk menjadi Pemain Bola.

“Pokoknya Muin gak mau sekolah lagi Ma. Muin mau main bola aja.” Muin meminta dengan sedikit kerut
“Maksud kamu sekolah sepak bola saja?” tanya Mama “Kamu pikir apa sih tentang sepak bola. Mending kamu kayak Papa, sekolah yang benar buat masa depan kamu.”
“Tapi Muin mau kayak Bambang Perkasa mah.”ungkap Muin dengan sungguh
“Siapa lagi itu? Kamu itu aneh-aneh aja deh.” Tanya mamah sambil membalikkan halaman majalah yang dibacanya
“Ah, Mama nih kebanyakan baca Majalah Feminim sih. Dia itu Pemain timnas kita.” Jawab Muin dengan sedikit protes
“Oalah, timnas toh. Abisnya beritanya kalah mulu sih nih timnasnya.” Protes mama juga. “Baiklah Mama masukkin kamu ke sekolah sepak bola itu dengan catatan kamu masih harus sekolah. Tapi mama dengar-dengar, susah loh tesnya nak. Soalnya di kota kita cuman ada 2 sekolah sepak bola yang dibangun oleh pemerintah dan keduanya memang dikhususkan untuk anak-anak yang sangat minat akan sepak bola itu. ” Ungkap Mama dengan menatap langsung kepada Muin
“Asik, asik. Tenang Ma, Muin bisa Ma, besok Ma ya bawa Muin ke tempatnya…” Jawab Muin dengan percaya diri.
“Nggak bisa besok nak. Pendaftaran dan tesnya ada jadwalnya. Waktu itu Mama pernah nanya-nanya ke sekolahnya. Bulan depan ini baru akan diadakan tesnya untuk tahun ini” Jawab Mama.
“Ok Ma, pokoknya Muin harus masuk!” Ungkap muin dengan penuh tekad dan bara

Tinggal di kota dengan pemerintahan yang dikuasai oleh para korporat licik memang menjadi pilihan yang tidak dapat dielakkan untuk hidup di negeri yang ditinggali oleh Keluarga Muin tersebut. Seolah tidak ada ruang untuk rakyatnya untuk sekedar rehat sejenak di bawah hingar-bingar mesin industrialis atau hanya sesekali menoleh dibawah rindangnya hehijauan tumbuhan. Sungguh ironi memang yang dipikirkan oleh kedua orang tua Muin perihal minimnya sarana penyaluran minat dan bakat di kota sebesar ini. Yang tersedia hanyalah perihal tempat perbelanjaan, industri, dan properti. Dan ketiga itulah yang nampaknya menjadi tolak ukur kemapaman sebuah keluarga di kota tersebut. Hingga selesai tes sekolah sepak bola tersebut.

“Muin, kamu sabar ya, kan masih ada tahun depan untuk ikut tes lagi..” Bujuk mama menenangkan anak satu-satunya.
“Tapi Ma, pokoknya Muin mau jadi kayak Bambang Perkasa. Muin mau main bola, Muin mau main bola, MAIN BOLA!” Ungkap muin dengan raut muka kecewa
“Iya Muin. Tapi kamu bisa latihan dulu kan untuk tahun ini supaya tahun depan kamu diterima sekolah sepak bola itu.” Rayu Mama dengan nada yang pasti.
“……”

Jikalau sudah begini, seorang anak tidaklah kelak akan menyalahkan pemerintahan yang memberi sedikit ruang untuk hiburan mereka. Dengan ego anak, maka orang tuanya lah yang akan disalahkan. Ini nampaknya bukan masalah untuk berbesar hati menghadapi suatu persoalan. Tapi inilah sebuah kelangkaan keadilan untuk anak-anak. Seolah-olah Muin dan juga anak-anak lain adalah robot suatu kaum industrialis di negara berkembang untuk taat kepada sistematikanya. Per-televisian yang penuh mimpi, layaknya “MSG” pada ciki. Tanpa ada saling saring sana-sini. Juga kurikulum diajarkan oleh seorang guru di sekolah yang tidak memberikan sedikit pun kesempatan untuk anak-anak untuk ber-katarsis di sela-sela padatnya pelajaran yang menghantam dengan masif, mengingat tugas mereka adalah untuk membuat seorang anak-anak berorientasi kepada standar kemapanan kota ini.

21/01/12 azi92

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
Gallery | This entry was posted in they whisper, we explode! and tagged , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Main Bola

  1. Urfa says:

    Hai Isan😀
    wah, mantap banget ini ceritanya. ‘isan’ bangetlah. hehe.

    menurutku, secara umum ceritanya oke. dari sisi isi, kualitasnya nomor satulah. alurnya juga ngalir, enak dibaca. pesannya juga ketangkep banget. dan yg pasti, sarkastik. wow.

    detil2nya sih, paling aku mau ngomen masalah keparalelan kalimat. yg bagian “…guna bergaya bak bintang nasional maupun internasional dan juga penyaluran energi kinetis…” kalo yg satu ‘bergaya’, aturan setelah ‘dan juga’ pake kata kerja juga. ‘menyalurkan’ –> remeh temeh sih, hehe. tapi agak ngeganjel juga pas dibaca. detil2 kayak gini mungkin masuk PR editor sih ya. jadi ga masalah.

    hm, oya, kayanya yg dialog muin-mama perlu dipertegas di bagian “Baiklah Mama masukkin kamu ke sekolah sepak bola itu dengan catatan kamu masih harus sekolah…” bisa dengan nambahin dialog Muin-mamanya kayak, “Oke, Muin akan terus sekolah dgn catatan mama masukin aku ke sekolah sepak bola” jadi lebih kerasa nawar-nawarnya. alurnya jg jadi sedikit lebih panjang, efeknya, jadi kerasa lebih dramatis atau sejenisnyalah. hehe

    maaf kalo sotoy. hehehe. asik san, ceritanya. diantos anu salajengna🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s