Tulisan 23 Desember

Entahlah, mungkin hanya dengan tulisan ini saya bisa menghibur diri sendiri tanpa ada pembebanan terhadap orang lain. Saya namakan dengan pemberian angka 23, sekali lagi entahlah. Ingin berkata bahwasannya telah lahir gitar kedua yang akan menemani saya pun, itu bukan sesuatu spesial buat dibagikan.

Sudah lama sekali saya ingin berbagi cerita dengan jurnal ini. Maaf, waktu yang terlalu pekat ditambah aliran hormon penentu kehidupan yang sedikit terganggu akhir-akhir ini. Entah kenapa semua itu terasa tumpul. Sesekali bertanya tentang ide terhangat yang teman-teman punya, hanya menambah daftar draft yang berakhir pada ikon sampah.

Dan besok saya tahu bahwasannya jurnal ini akan berumur satu tahun. Ya, tepat sekali. Satu hari setelah tanggal 23 Desember, 24 Desember. Jurnal yang selama ini saya tulis atas kemauan pribadi, pemenuh hasrat ide bagian menulis, dan mediasi romantisan seseorang hingga sampai sekarang saya menulis tulisan ini.

Satu motif yang saya sebut sebagai anestesi menuju dunia yang dipenuhi dengan imajinasi liar. Dimana semua itu hanya dapat dikontrol oleh emosi pribadi dan lebih parah ketika anda memasuki trance yang bahkan anda tidak tahu apa yang telah anda lakukan dengan tulisan anda, tersadar dengan apa yang telah terjadi dan berkata, “wow, apa yang telah saya lakukan terhadap puisi ini”.

Adalah ketika saya membaca Tetralogi Buru, karya Pramoedya Ananta Toer pada novel ketiganya, Jejak Langkah. Jikalau saya boleh jujur tokoh Minke itulah yang benar-benar Tut Wuri Handayani terhadap saya. Ironis memang, bukankah saya seharusnya merasakan kenikmatan itu sejak sekolah dasar yang jelas-jelas itu tertera pada seragam yang saya kenakan dari umur 7 hingga 12 tahun itu, entahlah. Tetapi, bagaimana ia menyimpan sesuatu kekuatan pada tulisannya yang bisa menjadi agitator melawan segala kebodohan sejati bagi bangsanya itulah yang saya jadikan landasan mengapa saya menulis.

Saya ingat betul betapa Bapak mewajibkan saya membaca buku. Dan dengan bodohnya saya baru sadar akan bacaan-bacaan semesta ini adalah pada saat saya berseragam putih-abu. Tidak apa, tidak ada kata terlambat. Mampu menghabiskan 2 buku dalam satu bulan adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Mencoba mereka-reka, berdiskusi dengan pribadi, tidak membenarkan 123% apa yang ada dalam buku tersebut, dan juga berandai kelak saya akan membuat apa yang sedang saya lahap tersebut. Satu kalimat yang mungkin saya hasilkan ketika mengandai-andai diatas, “Saya dapat Membaca, maka saya harus dapat menulis.”. Terlihat seperti Idealisme Plato, suatu pemikiran yang berasal dari idea(mimpi) yang mencoba mewujudkan sesuatu berdasarkanya, biarlah terlihat seperti itu. Bukankah itu yang selama ini ditekankan oleh sekolah-sekolah keunggulan dimana masing-masing siswa harus memiliki mimpi dan mencatatnya.

Nampaknya saya harus menutup tulisan semrawut ini. Malam tetaplah malam. Tetapi esok bukanlah esok. Esok adalah Ulang Tahunmu yang pertama.

Wilujeung Tepang Taun Jurnalazi92!

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
Gallery | This entry was posted in PROSES!. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s