I Cried Instead

Tidak perlu dibesar-besarkan dengan judul yang saya buat diatas. Tetapi memang pada kenyataannya saya menangis dengan sangat pada Sabtu(11/06). Ya, hari itu adalah bertepatan dengan pelepasan seluruh Siswa-Siswi Angkatan XIV MAN Insan Cendekia Serpong atau yang dikenal dengan nama AXIVIC LUNARISMOSINERATI.

Sulit sekali saya menjabarkan arti kata perpisahan yang telah terbangun selama tiga tahun kebelakang. Sudah saya persiapkan berbulan-bulan sebelum acara itu berlangsung untuk mencari arti kata tersebut. Tetapi pada saatnya tiba, semua usaha tidak bisa berkata. Ketika romantisme terasa lebih nyaman ketimbang logika untuk memaknai hari besar di dalam hidup saya tersebut. Ketika berpelukan adalah bahasa tubuh yang paling bermakna dibanding dengan ucapan “Sukses Ya..”. Dan ketika menangis adalah pilihan terakhir untuk melepas kehangatan kebersamaan yang sudah terbangun selama 1065 hari.

Mungkin inilah yang sudah digariskan oleh Allah swt. bertemu dan berpisah dalam setiap kesempatan. Memang tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Tetapi, keberuntungan adalah hal yang tepat untuk saya ungkapkan ketika memulai mengenal satu demi satu sifat menarik yang dimiliki teman-teman satu angkatan. Sehingga keberuntungan tersebut menjadi sisi melankolis yang terbangun akibat persahabatan.

Saya tiba-tiba ingin bernyanyi.”..Nikmatilah saja kegundahan ini, segala denyutnya yang merobek sepi. Kelesuan ini jangan lepas pergi, aku menyelami sampai lelah hati.” Potongan lirik tersebut memang pas sekali untuk menggambarkan bagaimana keadaan saya sekarang ini. Entahlah sampai kapan. Tetapi terus mengulang untuk bernyanyi Melankolia – Efek Rumah Kaca tersebut tidak ada baiknya juga.

“Saya hanya ingin mengatakan selamat tinggal. Tetapi ini bukanlah perpisahan…” Itulah kiranya terjemahan dari lagu potongan reffrain dari lagu yang terakhir kali saya buat. Saya akhiri saja. Dan terakhir biarlah ini menjadi rahasia saya dan teman-teman yang membaca tulisan ini perihal apa yang telah saya alami di wisuda tersebut. SPASIBA!

MEMORI TERSIMPAN UNTUK 2008-2011, AXIVIC LUNARISMOSINERATI TAK TERLUPAKAN.

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
This entry was posted in PROSES!. Bookmark the permalink.

3 Responses to I Cried Instead

  1. Abu B Shiddiq says:

    cadass

  2. Barmen73 says:

    Memang menangis kadang dianggap berlebihan, tetapi ketika menangis menjadi cara terakhir untuk mengungkapkan perasaan maka tidaklah salahnya menangis itu dilakukan..
    menurut gw itulah yang terjadi pada nak axivic rasa itu begitu kuat sehingga menangis menjadi cara untuk meluapkan rasa itu …………

  3. syaifullah04 says:

    “menangis” menjadi sebuah kewajaran setelah membangun kekompakan selama 3 tahun bersama Axivic.
    nice posting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s