Pembekalan Iman dan Taqwa

Baru saja saya mengikuti acara pada 16-17 Mei 2011, yang diadakan oleh sekolah dan kebetulan memiliki banyak tema berkaitan dengan keagamaan, khususnya untuk pembekalan diri untuk menghadapi kerasnya “dunia luar sana”. Banyak ilmu yang saya dapat tentunya. Bukan hanya masalah yang berkaitan dengan agama secara kontekstual yang dibahas tetapi juga masalah yang berkaitan dalam realitas kehidupan zaman “kiwari”.

Paling menarik ketika saya mengikuti sesi tentang Perkembangan Aliran Sesat di Indonesia. Sepertinya animo dari teman-teman satu angkatan pun begitu besar untuk mendengarkannya. Saya pun larut dalam kegamangan hati yang paling terdalam. Tidak sanggup berbicara, ataupun sengaja mencatat apa yang diutarakan oleh narasumber. Semua ini adalah karena saya bekas santri Ma’had Al-Zaytun. Lembaga pendidikan yang sekarang tengah dikaitkan kembali dengan isu NII.

Batin dan pikiran mencoba menimbang apa yang diutarakan oleh narasumber dan pengalaman yang pernah saya rasakan selama menjadi santri disana. Rasanya ini sangat berlawan. Apa yang pernah saya alami disana, tidak sama persis seperti yang diutarakan olehnya. Terlepas dari sesat atau tidaknya pesantren tempat saya pernah menuntut ilmu ataupun RI atau NII kah pesantren saya. Saya hanya bisa menjawab, “Saya sebagai santri yang pernah mengenyam pendidikan di Ma’had tersebut, SAYA TIDAK SESAT.”.

Dalam hal tauhid yang paling mendasar. Saya belum pernah sekalipun menyatakan kembali Syahadat yang “benar” menurut mereka. Saya masih memegang teguh Syahadat yang ketika kecil saya ucapkan. Lalu masalah amaliah dan ibadah. Masih saya tetap melaksanakan sholat 5 waktu dan Rukun Islam yang lainnya, Insyallah.
Dan saya masih tetap berhubungan dengan teman-teman disana.Tidak terjadi apa-apa dengan mereka. Ataukah modus pesantren ini yang mengatasnamakan pendidikan sebagai cara mendirikan sebuah negara islam, Ah. Saya tidak tahu.

Sedikit menggelitik bagi saya ketika hal-hal yang berbau penyesatan agama terjadi di Indonesia ini. Adanya yang mengaku sebagai tuhan lalu ia mendirikan surga, menjelma menjadi malaikat, mengaku-ngaku menjadi nabi palsu, dll. Tetapi sebuah ironi adalah mereka memiliki banyak pengikut. Hey. Ada apa dengan penduduk Indonesia?

Ini mengingatkan saya kepada buku yang pernah saya baca, Madilog(1942) dengan penulis Tan Malaka. Ia sudah menulis buku untuk masayrakat Indonesia agar mempelajari logika yang ketika itu sedang hangatnya dibicarakan oleh orang-orang barat agar tidak terlalu percaya akan hal yang mistik. Hal yang mistik tersebut seperti minum-minum ramuan yang sudah dibaca-baca oleh “orang pintar” sebelum menghadapai pasukan belanda yang bersenjatakan revolver. Mungkin bIsa saya generalisasikan bahwasannya Indonesia masih sama seperti zaman penjajahan. Darisana kita diajari agar mempelajari logika yang bersifat rasional. Bukankah ini yang diajari agama Islam untuk mengenal Aqli . Dari Aqli lah kita bisa menjauhi yang namanya Taqlid. Itu masih dalam era kolonialisme. Dan sekarang saya mencoba menyambungkan dengan aliran filsafat yang sedang saya baca bukunya, yaitu Post-Modernism. Aliran yang mungkin masih dianggap “fresh”. Ketika ia merekonstruksi kembali pemahaman-pemahaman yang sudah terbakukan di era- Modernism. Modernisme yang banyak mengajarkan kita hal yang bersifat dogmatis, sebagai contoh hukum-hukum di bidang Fisika yang berdiri kokoh dari zaman Isaac Newton. Dan ternyata di era-Post Modernisme dapat diruntuhkan oleh Teori Relativitas Enistein. Bagaimana halnya dengan Agama Islam?

Yang perlu digarisbawahi adalah Agama Islam tidak bersifat dogmatis. Kita mengenal Ijtihad yang sangat berguna bagi kelangsungan Umat Islam di dunia ini. Adalah hal yang salah bila kita mengatakan Islam adalah agama yang ketinggalan zaman. Apa yang dilakukan oleh Ijtihad adalah mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan Syar’i.

Islam bersifat universal adalah benar adanya. Tidak ada satupun aspek yang luput dari pengembangan Agama Islam. Yang perlu dihadapi di era ini adalah sikap objektif dan mau menggali sesuatu hal, tidak asal menerima suatu ajaran. Sebagai contoh, penodaan agama yang sedang marak saat ini tidak akan terjadi bila kita tidak asal menerima suatu ajaran. Sekali lagi Islam bukanlah agama yang dogmatis.

SPASIBA.

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
This entry was posted in they whisper, we explode!. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s