Tauhid dan Seni

1

Tidak usah kita kiranya harus berbelit dengan pengalaman estetik di dalam pencapaian Tauhid. Karena sungguh sudah menjadi pengetahuan yang layak untuk diketahui bahwasannya keduanya adalah satu kesatuan yang mana bertujuan untuk mencapai sesuatu yang berwujud transenden. Perlu digarisbawahi. Wujud transenden disini adalah segala sesuatu yang  tak dapat ditangkap oleh pengalaman visual atau individu. Dan sekarang saya akan memulai dari pengertian kedua unsur, Tauhid dan Seni. Dan bagaimana keduanya dapat digabungkan sehingga dapat menjadi sesuatu yang Qur’ani.

2

               Tauhid yang secara harfiah berarti mengesakan atau menyatukan. Kata Tauhid yang dikehendaki disini, tidak lain dari tauhidullah, yang berarti mengesakan Allah, atau dengan kata lain menyatakan bahwa Allah(Tuhan) itu esa, satu, atau tunggal.  Agama tauhid yang dibawa oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW adalah agama yang menekankan kepada monotheism, hingga agama ini dapat disempurnakan oleh nabi akhir zaman Nabi Muhammad SAW melalui mukjizat yang agung, Al-Qur’an. Melalui dua kalimat syahadat berarti seorang muslim sudah menetapkan ketauhidan kepada Allah SWT.

Dan seni sendiri dalam bahasa Sanskerta disebut cilpa. Sebagai kata sifat, cilpa berarti berwarna, dan kata turunannya su-cilpa berarti dilengkapi dengan bentuk-bentuk yang indah atau dihiasi dengan indah. Atau menurut orang latin, seni yang biasa disebut Ars. Memiliki arti ketangkasan kemahiran dalam mengerjakan sesuatu. Dan setelah berkembangnya zaman, seni dapat diartikan sebagai ide, gagasan, persasaan, suara hati, gejolak jiwa, yang diwujudkan atau di ekspresikan, melalui unsur-unsur tertentu. Tetapi bagaimanakah suatu proses kreasi seni dapat mencapai ketauhidan atau wujud transendensi.

3

               Seperti yang saya sebutkan diatas tentang Tauhid yang dimulai dengan 2 kalimat syahadat Asyhadu anlaa ilaha illalah wa Asyhadu anna Muhammadarosulullah adalah Rukun Islam yang pertama, yang mana belum sempurna keislaman seorang muslim jika belum mengucapkan 2 kalimat itu.

Disini saya akan membahas Tauhid adalah prinsip awal Estetika. Berawal dari kalimat “tidak ada tuhan selain Allah SWT”. Beberapa Muslim mulai meniadakan alam yang dapat menggambarkan Tuhan. Dengan demikian objek alam tersingkir jauh, Itulah mengapa Allah tidak pernah digambarkan secara naturalistis (pada bagian selanjutnya saya akan menjelaskannya). Karena sekali lagi kata ”tidak” disini merupakan negasi kepada seluruh alam. Lalu proses kreatif para seniman muslim mulai muncul ketika mereka berpikir melukiskan Allah Swt dalam figur alam adalah hal biasa. Tetapi melukiskan Allah Swt dalam “keterlukisan” Allah Swt dalam figur adalah hal lain. Maksud keterlukisan tersebut merupakan sifat Tuhan, yang artinya ketidakterbatasan, kemutlakan, dan ketakbersyaratan. Maka para seniman muslim mulai menyadari bahwasannya Allah Swt adalah yang mutlak dan agung. Dia tak dapat digambarkan dengan apapun ciptaan-Nya. Tak cukup disana, proses masih berlanjut. Para seniman muslim mulai menyempurnakan seni yang disebut Arabesque yang sudah berkembang sebelum Islam tumbuh di Arab sehingga seni ini kemudian diidentikkan dengan seni Islam karena para seniman muslimnya yang berbakat. Dan karena Arabesque inilah seseorang  yang bilamana ia mengapresiasi suatu proses dengan bergerak terus menerus menuju ketidakterbatasan maka ia akan mencapai kepuasan apresiasi lebih dekat dengan Allah Swt dan selalu mengingat-Nya. Dari situlah Tujuan Seni dalam Islam mulai dibangun. Adalah mengarahkan agar manusia sebagai perwakilan Allah Swt untuk merenungkan dan mengingat-Nya.

4

               Pada bagian ini saya akan menjelaskan sedikit tentang Arabesque yang dapat menuju ketidaterbatasan. Sebenarnya makna Seni Arabesque banyak yang mendefinisikan seni tak terbatas. Arabesque tidak hanya dibatasi oleh gambar daun, kaligrafi dua dimensi, susunan geometri yang sempurna, dan yang bersifat kesenangan pribadi. Tetapi lebih dari itu, ia dapat membangkitkan apa yang ada di ketidakterbatasan melalui pola-pola tak terbatas yang menjadi ciri khasnya. Dengan merenungkan pola-pola tersebut, diharapkan pikiran orang yang mempersepsikannya dialihkan kepada kekuasaan dan keaguangan Allah Swt. Sekarang bagaimana seni tak terbatas ini dapat membangkitkan kesan tak terbatas dan transendensi yang dituntut oleh doktrin tauhid dalam Al-Qur’an. Saya akan mengurainya satu per satu.

Menurut Al-Faruqi, ada beberapa bentuk karakteristik estetis seni tak terbatas ini. Yaitu, Abstraksi, Struktur Modular, Kombinasi berurutan, Pengulangan, Dinamisme, dan Kerumitan. Dimulai dari abstraksi. Abstraksi dicirikan dengan teknik denaturalisasi sehingga ini lebih kepada penolakan terhadap figur natural. Sesuatu yang abstrak akan memiliki sudut pandang tak terbatas.  Struktur Modular adalah kumpulan beberapa modul yang menghasilkan desain yang lebih besar. Lalu Kombinasi Berurutan disini lebih menekankan bahwasannya seni disini tidak dipandang melalui satu sudut tertentu karena kombinasi berurutan ini mengkombinasikan dari ukuran desain yang besar sampai desain yang paling kecil. Tetapi desain yang besar tidak menghancurkan ekspresi dari desain yang lebih kecil. Kesemuanya ini diulang, divariasi, dan digabung menjadi seperti yang saya sebutkan diatas, tidak cukup dengan satu sudut pandang karena ia memilik banyak sudut entitas dan tidak akan ada habisnya. Dan satu lagi, tak ada perkembangan progresif ke titik fokus puncak atau konklusif. Selanjutnya Pengulangan. Untuk mencapai kesan tak terbatas inilah maka dibuatlah karya seni yang dibuat secara berulang tingkat tinggi. Pengulangan motif, modul struktural, dan abstraksi yang menghilangkan kesan “mirip” dengan desain yang lain adalah kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Ini seperti ketika saya melihat sajadah, ataupun karpet yang sekarang saya sedang duduki. Kita menelurusi garis-garis yang menyerupai jalan-jalan yang harus dilalui untuk menuju akhir.Dari jalan yang penuh kelokan atau lebih lagi kelokan 90 derajat, saya sudah lalui. Tetapi setelah beberapa saat, saya tidak menemukan akhir tersebut yang tampak adalah kita kembali ke jalan yang sama. Nah, itulah yang coba saya maksudkan diatas. Namun nampaknya saya belum mendapatkan kepuasan, bagaimana saya bisa mendapatkan kepuasan yang dimaksudkan diatas, yaitu membangkitan ketidakterbatasan. Ternyata Dinamisme lah yang harus dipakai disini. Desain Islam bersifat dinamis, yaitu desain yang harus dinikmati sepanjang zaman melawati ruang waktu dan visual. Seperti contoh, kita tidak bisa menikmati suatu karya dekorasi dan arsitektur sebuah istana dengan hanya memandangnya dari jauh untuk mencapai totalitas kepuasan. Ia harus dinikmati dengan santai. Menikmati setiap sudut istana, dari ruang ke ruang. Memahami makna dekorasinya sampai kepada ujung-ujungnya. Dengan menggunakan imajinasi, diharapkan karya desain Islam menjadi seperti yang disebutkan diatas. Bagi yang memahami pesan dan strukturnya, Arabesque adalah seni yang paling dinamis yang secara estetis paling aktif dari semua bentuk seni. Dan terakhir adalah Kerumitan. Detail yang rumit adalah ciri-ciri terakhir dari karateristik seni Islam. Kerumitan dapat menarik perhatian orang yang memandangnya dan mengupayakan konsentrasi pada entitas struktural yang ditampakkanya. Hanya dengan keragaman unsur-unsur internal dan semakin rumitnya goresan serta komibinasinya maka dinamisme dan pola tak terbatas dapat diwujudkan.

5

Ya itulah sedikit penggambaran tentang seni Islam yang dapat membangkitkan desain tak terbatas dan transendensi yang dituntut oleh Islam.

Seperti janji saya diatas.  Saya akan menjelaskan mengapa Allah Swt tidak digambarkan secara naturalistis. Sebenarnya pelarangan penggambaran naturalistis tuhan adalah suatu cara estetis untuk seorang muslim agar ia tidak merasa puas dengan apa yang ia dapatkan. Hal itu berimplikasi agar ia mencari, mengingat, dan merenungkan-Nya seperti yang diungkapkan dalam Tujuan Seni Islam diatas. Seiring berjalannya waktu, umat muslim harus memenuhi tata cara baru dalam ungkapan baru dalam ekspresi estetis. Cara baru tersebut tidak akan mencapai orientasi dan sasaran estetis Islam melalui penggambaran manusia atau alam. Ini hanya dapat terwujud melalui proses perenungan kreasi artistik yang dapat memperteguh keyakinan akan keberadaan Allah Swt. Dan sedikit saya telah membahas proses perenungan kreasi artistik untuk mencapai Tujuan Seni sesungguhnya.

Sumber: Al-Faruqi, Atlas Kebudayaan Islam,(Bandung:Penerbit Mizan), 1998
Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia,(Jakarta:Penerbit Djambatan), 2002
Karen Armstrong, Sejarah Tuhan,(Bandung:Penerbit Mizan), 2002
Kusrianto, Adi dan Made Arini, History of Art(Jakarta:PT Elex Media Komputindo,2011)

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
This entry was posted in ESSAY. Bookmark the permalink.

One Response to Tauhid dan Seni

  1. ipik says:

    Semboyan tentang seni pada umumnya adalah “art is for art”. Inilah akar kenapa seni dijadikan ladang ekspresi hati yang melampau batas norma, etika, bahkan estetika itu sendiri –toh seni (estetika) adalah sesuatu yang sangat individual atau subjektif. Jadi tidak ada yang salah– apalagi batas teritorial. Seni itu mondial dan universal. Itulah batasan seni. Bahkan seni bisa jadi sesuatu yang untouchable dalam hukum. Coba lihat kajian seni posmodernisme.
    Di sini, ada perbedaan mendasar yang membuat garis pembatas antara seni dalam pandangan umum dengan seni dalam pandangan islam. “Art is for art” menjadi tidak berlaku karena fondasi seni dalam islam adalah “art is for dakwah”. Tidak ada yang terlepas dari unsur itu, dakwah. Ekspresi seni dengan berbagai kerumitan dan keindahannya pun memiliki fondasi kuat, for dakwah. Sehingga seni islam dengan amat sangat mudah bisa bedakan dari seni pada umumnya. Tidak pernah mengalami bias.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s