Satu Kardus

Siang tadi saya sengaja beres-beres bersama ibu. Dari menata kamar yang paling pas untuk calon mahasiswa(AMIN..) sampai tidak sengaja mengumpulkan kembali koleksi-koleksi kaset bapak dan juga kaset saya. Dan kesemuanya memiliki sejarah yang panjang dari masa-masa saya mengenal musik rock lewat band Scorpion hingga album Raihan dari awal sampai akhirnya yang biasa bapak pasang pada masa saya kanak dan masih banyak lagi. Kesenangan bapak mengoleksi kaset-kaset mungkin tertular kepada saya.

Saya tahu ketika bapak akan membeli suatu kaset. Tepatnya di toko Aquarius Dago yang sekarang sudah tutup karena resesi ekonomi global ditambah merosot tajamnya penjualan fisik sebuah Album, terlebih dahulu ia melihat rak New Release atau Best-Seller. Bahkan ketika itu saya sempat terkaget karena bapak membeli kaset Simple Plan-It’s not Getting Any yang ketika itu bapak berumur 42 tahun dan itu musik yang ditargetkan untuk kalangan muda-mudi. Gayung bersambut, ternyata itulah yang saya targetkan akan dibeli pada bulan itu karena baru beberapa hari sebelumnya rilis. Jadi saya urungkan niat saya untuk membeli kaset tersebut dan bersiap untuk menunggu kaset-kaset terbaru bulan depan.
Lalu satu cerita yang berhasil dibangkitkan dari pencarian kaset tersebut adalah ketika saya membeli kaset Limp Bizkit-Chocolate Starfish and The Hot Dog Flavored Water. Baru selang beberapa hari saya menikmati sajian musik nu-metal Limp Bizkit, Kaset tersebut dibuang oleh kakak tertua saya tetapi untuk cover dan bungkusnya tersimpan rapi sampai saya temukan lagi tadi pagi. Bukan tanpa sebab kakak tertua saya melakukan itu, menyadari lirik-lirik band tersebut sangat vulgar untuk anak-anak seumuran SD kelas 2 maka ia bertindak dengan bijaksana. Rasa dongkol saya pada saat itu sangat tinggi terhadap kakak saya, tapi mau bagaimana lagi, anak kelas 2 SD yang tidak akan berdaya melawan kakak yang paling besar. Dan saya mulai menyadari ketika beranjak besar. “Fred Dust buat lirik kacau banget dah, bodo ah gua kan suka ama si Borland-nya doang”, ketika beranjak besar berkata pada diri sendiri.

Tetapi tampaknya itu tak akan terjadi pada periode ini. Ketika Digitalisasi menguasai berbagai aspek, kemudahan dan kesederhanaan yang dicari. Dari situ orang-orang mulai merasakan berbagi tanpa batas. Berbagi album-album yang digemari secara gratis satu sama lain melalui kecanggihan teknologi informasi di era ini dan saya adalah salah satu yang terkena arusnya tanpa harus menafikan hal tersebut. Dari sanalah, satu hal yang saya harus siap hadapi adalah kehilangan bentuk fisik dari sebuah karya. Sungguh ini adalah hal terberat bagi saya, fisik akan menjadi nilai historis bagi saya ataupun buat keturunan saya nanti seperti cerita yang saya angkat diatas. Makanya saya sebisa mungkin menyimpan kaset-kaset tersebut, mungkin satu kardus kaset ini akan menjadi cerita-cerita yang dapat dilanjutkan oleh keturunan saya ataupun menjadi referensi buat mereka seperti halnya saya menanyakan kepada bapak,
“Pak, punya album-album Whitney Houston?” tanya saya
“ada, di gudang kalo ga salah” jawab bapak
Barulah saya temui tadi pagi beberapa album Whitney Houston.
SPASIBA!!!

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
This entry was posted in PROSES!. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s