Cerita dari Tenda Nasi Kuning

“Jika anda semua menemukan orang yang menurut anda berilmu dan anda ingin mempelajari ilmu orang tersebut maka ikutilah orang tersebut hingga tidurnya.” Pepatah Klasik

Tidak tahu darimana pepatah itu berasal, atau hanya pikiran saya saja sedang memikirkan quote yang paling tepat untuk sebuah PROSES!

Yah itulah yang saya alami ketika mempelajari gitar, entah ini konyol atau terkesan melebih-lebihkan. Tapi itulah saya ketika itu. Tak ingin membeda-membedakan golongan ketika mempelajari sesuatu, dengan motto “semua orang adalah guru” pasti kita akan merasakan manisnya dalam menjalankan PROSES!

Sudah terbilang 7 tahun yang lalu, ketika itu gitar adalah salah satu instrumen yang menurut pandangan saya adalah instrumen yang “cowo” banget. Entah itu pemikiran anak-anak SD 11 tahun yang ketika itu sangat sulit untuk memiliki keterampilan sedikit berbeda dengan anak-anak SD yang lain dan juga untuk mendapat perhatian dari lawan jenis. HA23x

Tidak seperti cabang-cabang olahraga yang digemari pada saat SD, seperti sepak bola, badminton, dll. Bermain gitar lebih bermain dalam sisi kejiwaan dan pada saat itu sangat jarang ada yang terampil memainkannya. Beda halnya dengan sepak bola yang ketika itu menjadi kegiatan wajib yang harus kami semua anak-anak SD lakukan selama 2 x sehari. Sehingga mereka sudah terlatih untuk bermain bola.

Sejak itu juga saya memutuskan untuk memulai PROSES!

Tepat disamping sekolah saya, berjualanlah emang-emang nasi kuning. Dan ketika itu tempat tersebut menjadi tempat paling enak untuk makan-makan ala anak SD, 1 porsi ber5. Ketika itu saya sedang melihat ke beberapa sudut di tenda-tenda warung nasi kuning tersebut. Tak sengaja menemukan gitar tua, berlapiskan cat kayu dengan senar gitar yang masih utuh dan segar. Dalam hati tepat sekali nih, momen yang saya tunggu.

“mang ieu gitar saha?*”tanya saya *mang ini gitar siapa?

“oh.. sok weh pake..*”jawab emang *oh pakai saja…

“ah teu bisa, ajarkeun atuh mang.*” pinta saya dengan muka melas *ah gak bisa , ajarin ya mang

“…”mang diam dalam seribu bahasa

Seperti halnya Rosulullah SAW diam berarti menyetujuinya.Alhamdulillah akhirnya Allah mengabulkan do’a saya untuk mempelajari gitar. Sejak itulah waktu istirahat saya dipakai untuk privat dengan emang-emang nasi kuning. Hingga saya bisa memainkan beberapa lagu lengkap dengan teknik-tekniknya. Sampai saya lulus dan seterusnya akan selalu kuingat jasa emang-emang nasi kuning tersebut. Sama halnya dengan guru-guru yang lain. “Karena guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” dan juga membantu saya dalam PROSES!

 

 

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
This entry was posted in PROSES!. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s