Popularitas Untuk Massa

Words by AZI(15/10/10)

“Popularitas mereka tak ada duanya. Dari aksi pembodohan hingga pencalonannya. Maskapai politik dari tiap partainya. Menjadi Tunggangan bersama dengan pilotnya. Berpidato di depan dengan tampang percaya. Menghipnotis sejuta massa dan para pemirsa. Sembilan digit angka rupiah yang tertera. Hanya untuk massa jabatan yang sementara.           AAA….. Kami tak percaya, engkau telah membodohi kami semua, sehingga bangsa ini menjadi lemah.    AAA….. Kami tak percaya, popularitas telah berubah menjadi massa.”

Kalimat-kalimat diatas saya ambil dari syair yang saya buat beberapa bulan yang lalu. Sengaja saya mengangkat tema ini bukan karena saya tidak menyukai popularitas, malah dari judul yang saya tulis diatas popularitas dapat mengahsilkan sebuah kekuatan yang bukan saja menghasilkan kekuatan untuk diri sendiri tetapi untuk mempengaruhi orang lain. Kita sudah melihat fenomena yang sedang berkembang, yaitu CELEBOLITIC, adalah gampangnya bila kita definisikan selebritis yang berpolitik. Dalam wawancara majalah Ripple edisi 65 dengan Ucok Homicide dengan tema “Hate/Not Issue”. Ia berkata, “Ah pokoknya artis-artis opurtunis yang jadi caleg, yang sok kritis, sok reformis, sok pro-perubahan, padahal kalo Suharto masih menjabat sekarang, mereka pasti bakal di barisan artis-artis yang nyanyi Bapak Pembangunan di sebelah Titiek Puspa.” Dan saya 90% mendukung ucapan tersebut. Bagaimana tidak kesalnya saya ketika seorang artis mencalonkan menjadi anggota legsislatif, eksekutif, dll yang bila saya perhatikan mereka muncul di layar TV atau media massa yang lainnya, sangat tidak terlihat citra seorang pemimpin didalam tubuh mereka. Yang ada hanyalah mengumbar kebodohan, nafsu, sensasi, dll. Dan kalaulah bukan karena harta mereka yang melimpah, tidak mungkin mereka melangkah sejauh ini. Ratusan juta sampai miliaran rupiah yang dihabiskan untuk jabatan tersebut. Padahal kalo kita hitung, itu adalah modal yang terlalu besar bila dibandingkan pemasukkannya mereka nantinya apabila terpilih menjadi anggota sebuah lembaga legislatif. Kalau kita melihat dari praktek ekonomi tukang bakso apabila keuntungan lebih besar daripada modal berarti ia mendapat laba. Dan apabila modal lebih besar dan keuntungan lebih besar dari keuntungan berarti ia mendapat rugi. Dan kalo melihat permasalahan diatas maka mereka adalah rugi. Dan darimana mereka dapat menutup kerugian tersebut. Ada sebagian yang mengikhlaskan tetapi sebagian yang lain Wa’llahu ‘alam.

JURNALAZIDUA

About jurnalazi92

Semua yang ada didalam tulisan ini, semata-mata saya tulis karena saya senang menulis.
This entry was posted in they whisper, we explode!. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s